Minggu, 20 September 2009

sebuah drama dari negeriku

sebuah drama dari negeriku
09 September 2009 jam 8:39

Ratna, sangat mencintai negerinya. Hingga dia rela menjual tubuhnya pada Negeri asing. Negeri yang kata orang bisa merubah nasib. Hingga ia nekat pergi meninggalkan anak dan suami, dan Negeri yang ingin ia sumbangi sedikit rejeki. Hingga bisa diakui sebagai anak Negeri.

Suminten begitu mencintai Negerinya. Sungguh, tak ragu, walaupun ia Cuma seorang pelacur. Dia juga tahu kalau korupsi masih saja ada. Walau KPK sudah ada. Dia mendengarnya dari laki-laki berdasi yang suka mengajaknya mesum di losmen murahan.

Larasati begitu namanya. Ia cinta akan tanah airnya. Walau ia Cuma seorang artis viguran yang hanya di bayar seratus ribuan, namun di ranjang lumayanlah dibayar jutaan. Dia juga tau kalau Negara kita tetap saja bergantung pada hutang. Kalau ditanya darimana ia tahu, ah dia hanya mengibas bahu.

Tak usah bertanya pada Marsinah betapa cintanya ia pada Negaranya. Tak tergiur Dollar, Ringgit ataupun Dinar. Ia tetap setia di tanah tumpah darah warisan orang tua. Kumpul bersama sanak keluarga. Makan tak makan asal kumpul. Walau terpaksa merelakan tubuh dijamah habis-habisan oleh bandot tua majikan tempat ia mencari sesuap makan.

Kau tahu, aku juga cinta. Sangat cinta. Pada Negeriku ini. Pada bangsaku ini.

Tempat rakyatnya dikirim keberbagai Negara. Diberi gelar “pahlawan Devisa.” Yang untung kalau pulang selamat, tubuh utuh, tak jadi mayat.

Tempat rakyat perempuan memamerkan paha dan membuka dada. Menjual tubuh demi selembar lima puluhan. Dicacimaki pelacur murahan oleh politisi berjas yang puas menggerayangi semalaman.

Tempat rakyat perempuan tertindas. Tak peduli TKW, Pelacur, dan artis viguran. Hingga Buruh di Negeri sendiri.

Aku serupa penonton di bioskop yang memutar film-film penganiayaan. Aku sedih, aku menangis, aku tertawa. Hanya itu. Aku hanya bisa tersedu sambil menikmati gambar-gambar di televisi. Melihat banyak perempuan yang dianiaya entah drama di televisi atau catatan harian buruh migran yang terlanjur mati.


Dari tempat ku bernaung : Singkawang, 16 agustus 2009


Komentar Publish FB :

Shu Shan Wang, 'Nandez Capricornidas', Trisna Bs dan 15 lainnya menyukai ini.


Anggun Veranantika
Anggun Veranantika
mantab, mbak...wah, nampaknya kata2mu yang tadi menghilang (;anggap tercecer) sudah dapat kau kumpulkan lagi ya....??? siiippp...
09 September jam 8:44 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Anggun Veranantika : wah berlebihan kawan.....hiks...bukan yang ne...ini bukan puisi hanya sekedar catatan ringan....hiks...kritik buat negeri yang sangat kucintai juga kritik buat kita2 pemuda Indonesia...
makasih kawan...mau menjadi pembaca pertama dan apresiasinya sangat berharga,......
makasih...o iya panggil aja ida...
thanx...
09 September jam 8:48 · Hapus
Anggun Veranantika
Anggun Veranantika
siapa yang berlebihan...??? apa yang aku tulis ya apa yang aku rasakan setelah membaca katakatamu. hehehe.

ok, ida salam kenal....
09 September jam 8:50 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih anggun....hiks...
salam kenal...jadi besar kepalaku neh
anggun...
09 September jam 8:52 · Hapus
Kwek Li Na
Kwek Li Na
Ida...ini puisi yang tersedih pernah kubaca di FB ini.

aku meniti air mata.

Hidup pilihan. namun apakah kami punya pilihan.... Baca Selengkapnya

thanks Ida agak tenang cc balik koment lagi :)
09 September jam 8:54 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
ceceku yang lembut dan manis...
aku cuma menuliskan apa yang aku lihat, aku juga sedih cece tak dapat berbuat apa-apa...hanya bisa melihat...namun aku bertekat, akan kutulis cerita dan derita itu,,,,agar semua orang bisa merasakan dan merasakan dan lebih merasakan apa yang buruh-buruh itu, rasakan....
cece....memang benar hidup itu pilihan....
makasih cece, mau selalu berkunjung di note saya
09 September jam 9:04 · Hapus
Zulfaisal Putera
Zulfaisal Putera
Perempuan!
Aku selalu merasa getir membicarakan sisi laranya!
09 September jam 9:07 · Hapus
Hanna Fransisca
Hanna Fransisca
Tragis ironis iya, Da. Kita doakan ya semoga negeri ini lebih baik.
09 September jam 9:07 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Hanna Fransisca : ceceku...ne bukan puisi menurutku...hanya sekedar kritikan aja soal masalah perempuan yang tak pernah tuntas di negeri kita. aku sedih cuma bisa menonton, tanpa bisa menolong, makanya aku hanya bisa menulis untuk mereka.

Zulfaisal Puteram : iya bang zul...saya hanya menulis ini karena geram terhadap keadaan dan pemerintah...
09 September jam 9:10 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih buat jempol mungil kawan-kawan...
09 September jam 9:10 · Hapus
Topan Asri
Topan Asri
Unik... entah prosa,puisi,atau apalah namannya... Yg jelas Ida menulis sesuai FAKTA yang tak terbantahkan...
Sy suka jiwa pertentangannya... Slamat Berjuang sobat... ^_^
09 September jam 9:11 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
terima kasih mas top yang selalu tampil elegan dalam komentar2 nya.....
makasih....
09 September jam 9:13 · Hapus
Kika Syafii
Kika Syafii
Syukurlah kalau masih bisa menikmati suguhan itu, bila sudah mati rasamu berarti kamu serupa jadi pejabat.
09 September jam 9:26 · Hapus
Kika Syafii
Kika Syafii
Atau penyair yang hanya onani itu.
09 September jam 9:27 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
makasih bung kika....ternyata anda selalu mau mengunjungi note-note saya yang sederhana ini...benar karena note ini hanya sebuah kritikan yang sederhana dari pemikiran yang sederhana pula, namun saya ingin mudah di tangkap maknanya oleh si mpembaca yang bukan kalangan penyair....
09 September jam 9:29 · Hapus
Penyair Kecil
Penyair Kecil
Keperduliaan yg sangat tinggi terhadap saudara sebangsa. teruslah ketuk MATA HATI mereka dengan tulis2 kamu yang begitu RAPI.
09 September jam 10:40 · Hapus
Aurelliano Buendia
Aurelliano Buendia
lanjut terus Ida.....
09 September jam 11:33 · Hapus
A Pan Di
A Pan Di
miskin membuat banyak penderitaan. dilihat, dibaca dan didengar tapi di mana tangan-tangan itu? malah seperti dicipta makin menjadi-jadi....
09 September jam 13:16 · Hapus
Aries Yulianto
Aries Yulianto
Tulisan yang lahir dari jiiwa bersih penulisnya.
Seorang yg tak berdaya membaca zaman dan kelakuan manusia.
Selalu dan masih , perempuan2 itu teraniaya di negerinya sendiri.
09 September jam 16:23 · Hapus
Bayu Soponyono
Bayu Soponyono
Serasa menonton reality show.
09 September jam 16:53 · Hapus
Cepi Sabre
Cepi Sabre
potret yang unik dari makhluk yang bernama perempuan
09 September jam 19:14 · Hapus
Frans. Nadeak
Frans. Nadeak
Tulisan yang menyentuh.
Permasalahan seperti ini memerlukan multidisiplin pendekatan, multidisipilin pengetahuan, dan multidisiplin ilmu.
Sangat kompleks, tapi selalu berawal dari pengajaran dan pendidikan di rumah dan sekolah, kemudian pendidikan dan pengalaman yang memperteguh akan kemuliaan seorang manusia.

Saya sampai sekarang secara umum tidak respek dengan acara televisi yang mengumbar kekerasan dan merendahkan martabat manusia.... Baca Selengkapnya

Hal sederhana tapi penting, kalau razia selalu yang dikejar-kejar dan ditangkap adalah wanita (dalam hal prostitusi).

Memangnya hanya perempuan bisa melakukan prostitusi?
Seharusnya para lelaki juga harus ditangani lebih serius.
09 September jam 20:56 · Hapus
Purwono Nugroho Adhi
Purwono Nugroho Adhi
cerita perempuan,
cerita antara tubuh dan pilihan cinta,
sebuah kontempatio yang mengingatkan,
pada eleven minutes karya paulo coelho
09 September jam 21:14 · Hapus
Hs Mbelink
Hs Mbelink
Yang paling aku suka dari penyair dan seniman seperti kalian, adalah kejujuran. untuk membagi potret kehidupan disekitar kalian !

Dan yang selalu aku kagumi, adalah ketulusan manusia-manusia seperti kalian.

kabarkan padaku lagi pesan yang baru kau bawa pulang dari pengembaraanmu ida !
09 September jam 21:47 · Hapus
Sandra Palupi
Sandra Palupi
luar biasa Ida!! kau memang tajam memandang sudut miris negara kita. perempuan. yah, perempuan. kadang kita sendiri bungkam. kita diam. kita takut. atau tak mau ribut. kita sendiri kurang memperjuangkan keperempuanan kita. perempuan masih begitu rendah dipandang. uh. gerah aku membicarakan ini. perempuan masih terjajah, bahkan dalam kelompok terkecil masyarakat kita, keluarga.

secara tulisan, aku suka plot yang kau sajikan diatas. kau perempuan hebat. terimakasih karna kepedulianmu atas ini.
09 September jam 23:47 · Hapus
Anita Rachmad
Anita Rachmad
ciamik ida. tulisan ini sederhana. tapi kekuatannya ada pada kisah yang kau angkat. ttg perempuan2 yang berjuang. entah demi motif apa pun (ekonomi atau idealisme) semua realitas yg kau tulis dalam prosa sederhana ini bisa membuka mata lebih lebar.

bahwa apa yg kau ungkap dalam kisah sederhana ini terjadi dimana-mana. diberbagai belahan dunia. tidak hanya di singkawang, indonesia tapi mana bumi di pijak !
10 September jam 1:14 · Hapus
Sayuri Yosiana
Sayuri Yosiana
menggetarkan sekali tulisanmu ida. sangat menyentuh. secara aq juga prempuan yg hanya bisa membayangkan seandainya posisiku seperti perempuan 2 yg kamu kisahkan itu. meski hanya lewat tulisan, semoga gaungnya tetap menembus ruang dan waktu.
seperti kata pepatah latin, verba valent, scripta manent : ucapan akan mudah hilang, tulisan akan tetap hidup selamanya. bravo ida !
10 September jam 2:04 · Hapus
Trisna Bs
Trisna Bs
sesaat membuat terhenyak... inilah realiti kehidupan....kadang begitu menakutkan bahkan hanya untuk ditatap..... namun ia tetap tuk dihadap....
Bagus teman.. aku suka....
10 September jam 3:05 · Hapus
Aku Diriku
Aku Diriku
kenyataan yang tak terpungkiri....... dan ironisnya ada sebagian yang justru menari-nari dalam kenyataan ini.. thank's sahabat...
10 September jam 5:09 · Hapus
Fira Rachmat
Fira Rachmat
Walau hanya catatan ringan buatmu tapi sangat besar makna yang terkandung di dalamnya dinda...tulisan yg mengupas sudut wanita mantap dindaku...makasih ya udah berbagi denganku say,salam.
10 September jam 10:07 · Hapus
Ricky Idaman
Ricky Idaman
sangat memprihatinkan, o..h tariklah napas yang panjanmg photret ini menghibau kita untuk berbagi rasa..
10 September jam 12:02 · Hapus
Shaut Ls Hutabarat
Shaut Ls Hutabarat
suarakan terus perjuangan penistaan kaum wanita! tulisanmu ini menarik sekali untuk penggambaan kaum munafik.
10 September jam 19:56 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Penyair Kecil : terima kasih kawan....semoga mereka bisa membuka mata hati, yaitu mereka2 yang melecehkan kaum perempuan....
Yayan R. Triyansyah : makasih kawan....namun apa yang harus aku teruskan????mirip2 Lanjutkan aje
A Pan Di : yah...begitulah potret kehidupan yang ada bung A Pan Di
Bayu Soponyono : reality show?????aku kurang mengerti maksudnya....bung bayu
Cepi Sabre : begitulah mas cepri...perempuan memang unik, memang selalu penuh hal2 yang selalu saja membuat sebuah keistimewaan.... Baca Selengkapnya
Frans. Nadeak : saya sependapat dengan bung frans...makanya saya menulis ini, bukan berarti saya mau di sebut perempuan yang sok peduli hanya di FB, tapi saya memang benar2 peduli...halnya permpuan memang selalu di salahkan, mereka toh tidak bisa berbuat apa2 jika tidak ada lawannya. tidak akan ada penjual jika tidak ada pembeli. yah, kan memang bukan hanya perempuan yang menjual diri, laki2 juga ada. namun kenapa hanya permpuan yang dicacimaki, di hina....
11 September jam 2:32 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Purwono Nugroho Adhi : makasih mas adhi, sudah mau berkunjung ke note sederhana ini....
Hs Mbelink : terima kasih HS, saya hanya mencoba jujur bukan hanya pada orang lain, namun terlebih pada diri sendiri.

Sandra Palupi : mb Sandra yang manis, memang, saya hanya bisa melihat, namun saya tak mau hanya melihat, saya terlebih tak mau merasakan hal yang sama seperti hal yang mereka rasakan. wah, mb Sandra berlebihan, sy perempuan biasa yang masih harus terus belajar dari mb dan kawan2 di Fb.
... Baca Selengkapnya
Anita Rachmad : wah, akhirnya mb Anita kyu muncul lagyi, hehehehe, makasih mb...saya hanya berusaha untuk menulis dan berjuang lewat tulisa...yah tak muluk2lah..hanya mengincar piala Nobel...
wkwkwkwwk

Sayuri Yosiana : makasih sayuri...mudah-mudahan tulisan saya tetap dikenang ya???walaupun cuma Sayuri yang ingat...hehehhhe

Trisna Bs : kawanku...makasih telah mau membaca. inilah bentuk kepedulian kita sebagai seorang PEREMPUAN....
11 September jam 2:40 · Hapus
Ida Nursanti Basuni
Ida Nursanti Basuni
Aku Diriku : makasih juga sahabat...yah begitulah hidup ini, memang banyak orang yang menyanyi gembira di atas pedih orang lain.

Fira Rachmat : terima kasih mb firaku yang baik...semoga kita kaum Perempuan lebih peduli lagi.

Ricky Idaman : yup mas Ricky, saya mengambil potret2 ini di Internet....hehehe semoga yang punya tak marah.... Baca Selengkapnya

Shaut Ls Hutabarat : terima kasih bang shaut, wah tadi mau balas pesannya kehabisan pulsa neh bang, heheheheh semoga abang senang. makasih ya bang atas kepedulian abang dengan membaca note sederhana ini.
11 September jam 2:44 · Hapus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar