Sep 27th, 2008
padahal, dengan semangat tulus serta senyum mengembang aku menjemput mbak is malam itu untuk menjenguk adik kecil adli, sepanjang perjalanan yang ku lewati dengan mbak is kita lalui dengan senyum dan canda tawa.memang, 2hari ne aq dan mbak is sama2 sibuk, sehingga tidak sempat menjenguknya
hari ne aq dan mbak is sengaja menyempatkan diri.
ah sepanjang perjalanan aq membayang kan wajah si kecil, ah, aq mendesah tanpa sadar, kasihan nasib mu adli
tak terasa 10 menit perjalanan dari rumah mbak is yang di pinggiran kota menuju jantung kota skw
akhirnya kami sampai juga di sana
ku parkirkan motor kesayanganku di parkiran rumah sakit yang tidak terlalu ramai malam itu
kami berjalan menuju bangsal kelas tiga itu dengan sesekali bercanda
namun alangkah terkejutnya aku dan mbak is saat sampai di bangsal kelas tiga khusus anak2 itu
adli kecil tidak tampak di atas tempat tidurnya maupun di box incubator tempat ia 10 hari ini terbaring lemah tak berdaya,aq dan mbak is mencoba tenang , tapi tetap terfikir oleh kami ga mungkin adli su dah pulang ke rumah,ah segera saja perasaan bersalah mampir di benakku, andai saja aq tiap hari menjenguknya
aq lalu menelpon nomer yang pernah di pakai orang tuanya untuk menghubungi ponselku
suara di seberang sana menyuruhku untuk tabah dan tidak terkejut, ia mengatakan adli sudah di panggil oleh yang kuasa
aku terduduk seketika
mbak is tak bisa bersuara
kami kemudian berlari menuju ruang informasi bangsal
suster mengatakan sudah 2 hari si kecil meninggal
hari minggu
padahal
malam itu kami sempat mencium weajahnya yang keriput
ah adli, maafkan kakak ya?
aku menangis tersedu
tak ada kata2 yang keluar dari bibirku
dengan bergetar aq menyalahkan diri mbak is menenangkan ku
“kita sudah berusaha, tapi Allah sudah berkehendak jeng, ikhlaskan, kita memang sayang sama adli, tapi Allah lebih menyayanginya, ini lebih baik, akan lebih baik jeng,karna sekarang di surga ia tidak merasakan sakit lagi, tidak akan kesakitan lagi”
benar, allah maha kasih, maha penyayang, dia pasti tau apa yang terbaik buat adli,
handphone q berdering suara di seberang sana topan,. ”di mana?udah buka puasa?”
tioba2 saja tangisku pecah kembali
aku cuma bisa terdiam
ku matikan telp dan menonaktifkannya
dengan langkah gontai aku dan mbak is pulang, namun harus mampir ke tempat bang bani utk mengambil proposal
saat sedih begitu aku ingat Tm ingin sekali ku telfon dia dan mendengar suaranya untuk menentramkan hatiku, ingat kawan2 yg lain
ingat topan, ingat mamaku, ingat kakrusmeini, ingat kesakitan2 yang ku alami, ketakutan lagi
kalau ingat kematian, bukan karna takut akan mati lalu masuk neraka untuk ganjaran dosa yg ku perbuat
namun aku takut aku belum berbuat apa2 untuk mamaku, kakak tercintaku, ponakan terkasihku
aku sering melihat ayah akhir2 ini dalam mimpiku
dia tersenyum
tapi saat aku ingin memeluk dan mencium tangannya
dia menjauh
tanpa kata2
cuma sebuah senyum tersungging di bibirnya
Senin, 16 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar